The Smiling General has passed away…
Anak-anak sekolah masa kini, mungkin hanya mengenal Sang Jenderal Besar dari buku sejarah. Namun saya lahir dan mengalami 20 tahun masa kepemimpinan Sang Jenderal. Selama 20 tahun itu pula, saya merasa cukup bahagia. Bisa makan tahu tempe (yang dulu termasuk ‘makanan murah meriah’) sepuasnya, ngga pernah antri minyak tanah / gas elpiji, menjadi juara cerdas cermat P4, sekolah di sekolah negeri yang berbiaya murah namun kualitas tak kalah dengan swasta terkenal, heboh (dan berjayanya) Golkar, dan apa lagi ya?
Pemberangusan demokrasi dan kebebasan berpendapat, ‘penjualan’ aset-aset negara, dan sederet ‘kesalahan’ Sang Jenderal, mungkin memang benar adanya. Saya tambahkan kata ‘mungkin’ disini, sebab belum divonis oleh pengadilan. Pengadilan RI menganut asas praduga tak bersalah, bukan?
Proses peradilan sepatutnya dilanjutkan, demi tegaknya hukum dan kehormatan lembaga peradilan RI. Saya setuju itu, tapi rasanya tak perlu disertai hujatan-hujatan, toh bagaimanapun juga, Sang Jenderal punya andil dan kinerja membangun negeri ini. Biarkan lembaga peradilan yang menjalankan tugasnya. Bagi lembaga peradilan, mohon jangan sia-siakan kepercayaan rakyat.
Pintu demokrasi dibuka lebar-lebar, apakah para ‘raja’ baru telah berhasil menghindari kesalahan yang sama dengan yang dilakukan Sang Jenderal? Atau malahan menambah varian kesalahan baru yang belum terungkap?
Setelah P4 ‘dihapuskan’ karena dianggap ‘menyesatkan’, lantas apa gantinya? Apakah masyarakat sekarang makin santun, makin toleran, makin menghindari kejahatan?
Goodbye, General. Semoga arwahmu diterima di sisi Allah SWT, dan diampunkan segala kesalahanmu.
Demokrasi Tahu Tempe
Hey, kedelai, tepung terigu, minyak goreng, beras, minyak tanah, elpiji, sayur-mayur, Partai Sembako ini juga sudah mendemokrasikan dirinya harganya lho.
Masing-masing bersaing dengan semangat kebebasan berpendapat menentukan harga, mungkin yang paling tinggi harganya akan meraih perolehan kursi terbanyak. ![]()
Jangan hanya bisa berkomentar, mari tunjukkan karya nyata yang intelek, tanpa kekerasan, untuk mengubah negri.
Politik itu memang kejam, hari ini kau jadi raja, esok kau mungkin terkapar tak berdaya.
Bersiaplah!
*Ditulis untuk mengenang H.M. Muhammad Soeharto, mantan Presiden ke-2 RI, wafat pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB*