Tiga Pertanda Pekerjaan yang Menyengsarakan
Posted on: Monday, Jan 21, 2008
Patrick Lencioni menulis dalam bukunya “The Three Signs of a Miserable Job” yang intinya seperti berikut ini.
Pekerjaan yang “menyengsarakan” berbeda dari pekerjaan yang “buruk”, sebab mimpi seseorang akan pekerjaan mungkin tidak diinginkan oleh karyawan lainnya. Namun pekerjaan yang “menyengsarakan” punya beberapa ciri universal.
“Pekerjaan yang menyengsarakan membuat seseorang sinis dan frustrasi dan mengalami penurunan mental saat mereka pulang ke rumah di malam hari,” kata Lencioni. “Pekerjaan itu menguras tenaga, entusiasme, dan harga diri mereka. Pekerjaan yang menyengsarakan dapat ditemukan di tiap industri dan di tiap tingkatan (jabatan).
Lencioni menyalahkan mayoritas permasalahan tersebut pada para pimpinan, yang merupakan faktor kunci dalam kepuasan (ataupun ketidakpuasan kerja) dari bawahan mereka. Survei Yahoo! HotJobs baru-baru ini mengarah kepada kesimpulan yang hampir serupa: 43% pekerja mengatakan tidak puas dengan atasannya merupakan alasan utama mereka berencana mencari pekerjaan baru di tahun 2008.
Tiga Pertanda
Lencioni mengidentifikasi tiga pertanda kesengsaraan dalam pekerjaan sebagai anonimitas, ketidakrelevanan, dan “tidak dapat diukur”.
Anonimitas: karyawan merasa anonim (bukan siapa-siapa, tanpa nama) ketika atasan mereka hanya memiliki sedikit minat terhadap mereka sebagai manusia dengan kehidupan, aspirasi, dan minat yang unik.
Ketidakrelevanan: Kondisi ini terjadi ketika karyawan tidak dapat melihat bagaimana pekerjaan mereka membuat perbedaan. “Setiap karyawan perlu mengetahui bahwa pekerjaan yang mereka lakukan memang benar-benar mempengaruhi kehidupan seseorang — seorang konsumen, seorang rekan kerja, bahkan seorang pengawas — dalam satu hal atau lebih.”
Tidak dapat diukur: Istilah ini menjelaskan ketidakmampuan karyawan untuk menilai bagi diri mereka sendiri tentang kontribusi maupun kesuksesan mereka. Sebagai akibatnya mereka sering hanya mengandalkan pendapat dari orang lain — biasanya dari atasan — untuk mengukur kesuksesan mereka.
Tiga Obat untuk Pekerjaan yang Menyengsarakan
1. Nilailah atasan anda, Apakah atasan tertarik dan mampu mengarahkan tiga faktor yang disebutkan di atas? “Banyak atasan yang benar-benar ingin meningkatkan dirinya, bertolak belakang dengan fakta bahwa mereka terlihat tidak berminat atau terlalu sibuk,” kata Lencioni.
2. Bantu atasan memahami apa yang anda perlukan. Ini dapat berarti meninjau kembali bersama atasan anda apa saja ukuran-ukuran kunci untuk kesuksesan pekerjaan anda. Lencioni juga menyarankan untuk bertanya pada atasan, “Dapatkan bapak/ibu menolong saya memahami mengapa pekerjaan yang saya lakukan dapat membawa perbedaan bagi seseorang?”.
3. Bertindaklah lebih seperti yang diinginkan atasan. “Karyawan yang memiliki minat yang lebih besar dalam kehidupan atasan mereka terikat untuk mempengaruhi mereka dengan minat manusia yang sama dengan yang mereka cari.” Atau temukan cara untuk memungkinkan atasan anda tahu bagaimana kinerja sang atasan dapat membawa perbedaan positif pada anda.
———————————————————————
Diterjemahkan bebas dari artikel asli yang ditulis oleh Tom Musbach, pada Yahoo! HotJobs.
Gambar buku diambil dari http://www.amazon.com
———————————————————————
Menurut hemat saya, bagian “Tiga Obat Pekerjaan yang Menyengsarakan” hanya cocok untuk tipe atasan yang berpemikiran terbuka (open-minded) dan juga kemampuan komunikasi bawahan terhadap atasan. Mengkomunikasikan ketidakpuasan bawahan atau lebih sebagai “kesalahan atasan”, dapat menjadi bumerang bagi si bawahan apabila atasan tidak dapat menerima diskusi ini sebagai bahan pertimbangan. Kepandaian komunikasi bawahan agar tidak terkesan “mengadili” ataupun “memojokkan” atasan, sangat diperlukan di sini. Komunikasikan keinginan anda yang menyangkut penyelesaian pekerjaan dengan bijak dan sopan.
Di bagian “bertindak seperti yang diinginkan atasan”, hendaknya disikapi bukan sebagai sifat “menjilat”, namun lebih kepada memahami gaya kepemimpinan atasan, dan berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan berorientasi target namun tetap mempertimbangkan keinginan atasan.
snydez
January 22nd, 2008 at 2:13 pm
Permalink this comment
1
sengsara dunk gue ya ?
-anonimitas : nama gue sama sekali ga tercantum di organizational chart kantor
-ketidakrelevanan : kadang relevan kadang engga kerjaan gue,
-gak bisa diukur : kerjaan gue sama sekali gak begitu dianggap
Hedwig™
January 23rd, 2008 at 1:06 pm
Permalink this comment
2
Nama, nongol dengan jelas di organization chart
Relevansi, kadang ada kadang enggak, kadang enggak jelas
Ukuran, ada koq KPI.
Gaji, gak tahu diukur ama siapa
Fasilitas, lumayan lah
Bosen, jelas.
Jadi kesimpulannya apa ?
aNdRa™
January 23rd, 2008 at 3:21 pm
Permalink this comment
3
@snydez: Hehehe…kalau memang masih ada faktor yang membuat betah untuk tetap tinggal ya berarti bisa sedikit menyamarkan “kesengsaraan” toh?
@Hedwig: Kesimpulannya mesti pindah kerja yang ada sepur-sepurannya…