Tertawa Selalu Sehat?
Posted on: Wednesday, Jan 23, 2008
Dalam dunia orang dewasa, pernah saya baca ada saran untuk menghadapi situasi yang kurang menyenangkan dengan mengambil sisi humornya. Atau juga banyak tertawa agar tidak mudah stress. Ada yang bilang juga banyak tertawa bikin awet muda.
Beberapa tulisan yang menyangkut hal ini:
Tertawa
Tertawa Bikin Awet Muda
Tertawa sendirian tentunya kurang sehat. Kecuali kalau misalkan sedang membaca komik humor sendirian, atau menonton film kartun lucu sendirian, lantas tertawa terbahak-bahak sendirian, masih bisa dimaklumi. Jika tertawa sendirian tanpa sebab, mungkin sudah saatnya bertemu psikiater.
Tapi bagaimana dengan tertawa dengan sebab-musabab yang jelas, dengan objek yang jelas, namun objek penderitanya ini selalu berupa orang lain. Menjadikan segala sesuatu pada diri orang lain sebagai bahan tertawaan, bahan candaan. Mulai dari nama seseorang, ciri-ciri fisik seseorang, tindakan seseorang, dan seterusnya. Sepertinya menjadi suatu kenikmatan bagi si subjek yang tertawa karena menertawakan hal-hal pada diri si objek penderita yang dianggapnya lucu dan pantas dijadikan bahan humor.
Ya, mungkin memang sesekali boleh dan perlu lah bercanda antar teman, saling meledek, saling mengolok. Tentunya dalam konteks bercanda semata. Tapi bila si objek penderita sudah tidak menanggapi, sudah tidak tertarik pada candaan model begini, sedangkan si subjek penertawa masih tetap hobi menertawakan, apakah ini tidak mengarah pada kelainan psikologis bagi si penertawa?
Entahlah. Dalam pandangan mata fisik dan mata hati nurani saya, tidak baik untuk selalu dan terus-menerus mencari-cari bahan tertawaan dari dalam diri orang lain. Menurut saya, bersahabat itu makin lama harus makin saling menyayangi (tidak harus sebagai pasangan suami istri / pacar lho), tapi lebih sebagai keluarga, sahabat.
Setiap manusia pasti punya kelemahan dan kelebihan. Lazimnya, bisa dikatakan 90% tidak suka bila ditunjukkan kelemahannya secara langsung, secara blak-blakan. Untuk membalas menertawakan dengan mencari kelemahan si penertawa, rasanya tidak bijak dan tidak dewasa. Untuk selalu diam untuk tidak menimbulkan masalah, rasanya bosan juga.
Untuk menasehati secara baik-baik, ah malas banget, sudah usia dewasa masa’ ngga ngerti-ngerti juga?
Hmm…saya memang masih belajar untuk bersikap dewasa. Dan masih harus terus belajar di tengah-tengah orang-orang usia dewasa yang mengarah ke sikap kekanak-kanakan dari hari ke hari. (Ini judgement pribadi dari saya, belum tentu benar). Menurut saya, orang yang suka menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan, adalah kekanak-kanakan. Belum tentu dia siap dihantam balik dengan bahan tertawaan yang sama. Malah besar kemungkinan, orang yang hobi menertawakan itu adalah orang minder tapi menutupi kekurangannya dengan sombong (merasa lebih baik daripada orang lain dengan cara menertawakan orang lain).
NB: Pemahaman-pemahaman ini saya dapatkan setelah lebih dari 29 tahun berkonsultasi dengan seorang guru Bimbingan Konseling secara privat dan gratis. Hehehe… jadi ini mungkin tidak bisa dijadikan dasar pemikiran universal. Setiap orang boleh saja berbeda pendapat tentang hal ini.
poer
January 23rd, 2008 at 3:54 pm
Permalink this comment
1
ngaca…
ngakak ngeliat yg di kaca
adit
January 23rd, 2008 at 4:34 pm
Permalink this comment
2
Kalau bisa ngetawain diri sendiri mungkin lebih sehat lagi ya? hehehehe
aNdRa™
January 24th, 2008 at 8:38 am
Permalink this comment
3
@poer: yang di kaca ada tambahan bayangan di belakang
@adit: hehehe..betul..apalagi kalo dibayar mahal kayak Tukul…mau banget. Kalo gak dibayar, lama-lama ya bosen juga kalo harus jadi objek tertawaan.
Harry
January 24th, 2008 at 10:17 am
Permalink this comment
4
tiba-tiba saya tertawa *clingak clinguk, takut dikira gila, di warnet jeh
*
Donny Reza
January 26th, 2008 at 3:39 am
Permalink this comment
5
Saya orang yang seperti itu, dalam setiap kejadian, selalu nyari sisi lucunya…dan tertawa sendiri
aNdRa™
January 28th, 2008 at 9:53 am
Permalink this comment
6
@Harry: Hihihi… lihat di belakangmu ada ‘penampakan’
@Donny: Hmm.. berbahagialah.. beneran bisa selalu nyari sisi lucunya? Gimana bila selalu disudutkan utk sesuatu yg sama sekali bukan bahan tertawaan? Apakah harus selalu (memaksakan) diri untuk ikut tertawa?