Goodbye General…
Posted on: Monday, Jan 28, 2008
The Smiling General has passed away…
Anak-anak sekolah masa kini, mungkin hanya mengenal Sang Jenderal Besar dari buku sejarah. Namun saya lahir dan mengalami 20 tahun masa kepemimpinan Sang Jenderal. Selama 20 tahun itu pula, saya merasa cukup bahagia. Bisa makan tahu tempe (yang dulu termasuk ‘makanan murah meriah’) sepuasnya, ngga pernah antri minyak tanah / gas elpiji, menjadi juara cerdas cermat P4, sekolah di sekolah negeri yang berbiaya murah namun kualitas tak kalah dengan swasta terkenal, heboh (dan berjayanya) Golkar, dan apa lagi ya?
Pemberangusan demokrasi dan kebebasan berpendapat, ‘penjualan’ aset-aset negara, dan sederet ‘kesalahan’ Sang Jenderal, mungkin memang benar adanya. Saya tambahkan kata ‘mungkin’ disini, sebab belum divonis oleh pengadilan. Pengadilan RI menganut asas praduga tak bersalah, bukan?
Proses peradilan sepatutnya dilanjutkan, demi tegaknya hukum dan kehormatan lembaga peradilan RI. Saya setuju itu, tapi rasanya tak perlu disertai hujatan-hujatan, toh bagaimanapun juga, Sang Jenderal punya andil dan kinerja membangun negeri ini. Biarkan lembaga peradilan yang menjalankan tugasnya. Bagi lembaga peradilan, mohon jangan sia-siakan kepercayaan rakyat.
Pintu demokrasi dibuka lebar-lebar, apakah para ‘raja’ baru telah berhasil menghindari kesalahan yang sama dengan yang dilakukan Sang Jenderal? Atau malahan menambah varian kesalahan baru yang belum terungkap?
Setelah P4 ‘dihapuskan’ karena dianggap ‘menyesatkan’, lantas apa gantinya? Apakah masyarakat sekarang makin santun, makin toleran, makin menghindari kejahatan?
Goodbye, General. Semoga arwahmu diterima di sisi Allah SWT, dan diampunkan segala kesalahanmu.
Demokrasi Tahu Tempe
Hey, kedelai, tepung terigu, minyak goreng, beras, minyak tanah, elpiji, sayur-mayur, Partai Sembako ini juga sudah mendemokrasikan dirinya harganya lho.
Masing-masing bersaing dengan semangat kebebasan berpendapat menentukan harga, mungkin yang paling tinggi harganya akan meraih perolehan kursi terbanyak. ![]()
Jangan hanya bisa berkomentar, mari tunjukkan karya nyata yang intelek, tanpa kekerasan, untuk mengubah negri.
Politik itu memang kejam, hari ini kau jadi raja, esok kau mungkin terkapar tak berdaya.
Bersiaplah!
*Ditulis untuk mengenang H.M. Muhammad Soeharto, mantan Presiden ke-2 RI, wafat pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB*
veta
January 29th, 2008 at 2:58 pm
Permalink this comment
1
pertamax *halah*
dulu seneng banget nek dikasih pak harto mesem
aNdRa™
January 29th, 2008 at 4:27 pm
Permalink this comment
2
@veta: duh seneng lho akhirnya ada pertamax disini
udah deg-degan gak bakal dapat komen satupun…
Sekarang masih berlaku ngga yah itu pak Harto mesem? Udah ngga beredar kayaknya ya..
IndraPr
January 29th, 2008 at 4:43 pm
Permalink this comment
3
You hit the nail on the head. Setuju 100%. Apakah pemimpin sekarang lebih baik dari Pak Harto dulu? Dan yang paling penting: apakah kita, masyarakat Indonesia, sekarang lebih baik dibandingkan masyarakat Indonesia waktu jaman Pak Harto dulu?
aNdRa™
January 30th, 2008 at 8:50 am
Permalink this comment
4
@IndraPr: bertanyalah pada tempe mendoan yang menciut separonya
thanks.
Hedwig™
January 30th, 2008 at 9:08 am
Permalink this comment
5
Hi Hi.. sebenarnya beliau orang yang baik. Tapi memang gaya militernya yang terlalu keras memang menjadi masalah.
Cara berbicara di televisi atau di rumah baik resmi maupun tidak resmi, sama saja, santai banget. Yang denger cuman bisa bilang “ho-oh”.
Sayang sekarang gak ada pemimpin kayak dia..
Kalo dituduh korupsi, ya biar aja… yang penting saat itu punya duit 100 Ribu bisa belanja di Hero sampek penuh keranjangnya
Tempe juga tersedia setiap saat
aLe™
January 30th, 2008 at 3:27 pm
Permalink this comment
6
*ikutan pake TM* ^^
yup, minimal aLe sudah berkarya di bLog
iin
January 30th, 2008 at 4:13 pm
Permalink this comment
7
spanjang hari sejak tgl 27 dicekoki Soeharto nih..dibilang presiden keren emang keren. jadi pembelajaran ajah
Harry
January 31st, 2008 at 11:20 pm
Permalink this comment
8
kalo tetangga saya bilang lebih baik jaman pak harto, apa-apa murah gak kayak sekarang
btw, mbak andra, aku masih punya yang gambar simbah harto mesem lo
aNdRa™
February 1st, 2008 at 8:08 am
Permalink this comment
9
@Hedwig: ke Hero mulu, sekali2 ke pasar tradisional dong.. jaman pak Harto duit 100 ribu dapat udang windu, ayam, daging sapi, dll sayur mayur cabe bawang buat persiapan kendurian sederhana
@aLe: bang..beli cabenya satu ons ya… *tambah gak nyambung toh* kikikiks…
@iin: kita memang bangsa belajar.. Wajib Belajar kan dari jaman pak Harto
@Harry: Harga mahal spt skrg kalo memang diimbangi dengan jaminan pendapatan yang tinggi sih jadinya gak berasa mahal
salary no up up but price up and up always
Eh itu pak Harto mesem sekarang katanya harganya dibeli 3x lipat dari harga nominal duitnya lho. Kalo punya segepok bisa kaya mendadak.