Pagi ini di kereta ekspres.
Dari pengeras suara diumumkan bahwa akan ada pemeriksaan karcis serentak. Penumpang yang tidak membeli karcis diharap tidak naik ke gerbong kereta. Inilah indahnya Jakarta, Indonesia. Pemeriksaan diumumkan sebelumnya.
Penumpang yang kedapatan tidak memiliki karcis di atas kereta, dikenai denda harus membeli karcis suplisi seharga 3 x harga karcis (Rp 30.000,-).
Saya tentu saja tidak pernah (lagi) membeli karcis. Eitss…jangan sangka saya penumpang gelap ya.. saya beli kartu abonemen bulanan, jadi bayarnya per bulan gitu.
Sekitar setengah perjalanan, penumpang sudah banyak yang terkantuk-kantuk. Petugas pemeriksa karcis (semacam ‘polisi’-nya kereta api gitu lah) menowel penumpang yang terlihat tertidur, untuk dimintai karcis / memperlihatkan kartu abonemen.
Seorang ibu, berseragam bank swasta, berjilbab (eh bukan mendiskreditkan umat Islam, tapi memang kebetulan dia berjilbab) yang biasa duduk di depan saya. Ketika petugas meminta karcisnya, si ibu terlihat mencari-cari ke kantong blazer-nya.
Petugas masih menunggui dengan sabar.
si ibu: “Demi Allah pak, saya beli kok tadi. Bentar ya saya cari.”
petugas: “Kami tunggu deh bu, silakan dicari aja. Kalau engga ya harus beli karcis suplisi.”
Sekitar 10 menit kemudian. Petugas masih menunggui, ada 3 orang petugas.
petugas: “Udah ketemu belum bu?”
si ibu: “Belum ada nih pak. Ya udah deh beli karcis suplisi aja (sambil menyodorkan uang tigapuluh ribu).”
petugas: “Nanti aja kalau ibu turun, di petugas pemeriksa karcis stasiun, ibu beli karcis suplisi ya.”
(Lho..kenapa ya…mungkin si petugas kasihan/percaya bahwa si ibu benar-benar kehilangan karcisnya).
Sekilas fakta yang saya ketahui:
Ibu itu memang hampir setiap hari duduk di bangku di depan saya.
Ibu itu bukan pemegang kartu abonemen (ini saya ketahui pasti, sebab saya tahu siapa saja anggota kartu abonemen di deretan depan saya).
Ibu itu selalu buru-buru memejamkan mata berusaha tidur ketika kereta mulai berangkat.
Ibu itu tidak pernah membuka mata dari entah-tidur-atau-tidak ketika ada pemeriksaan karcis yang dilakukan rutin oleh petugas berseragam safari (bukan Polsuska seperti hari ini).
Ibu itu tidak pernah menunjukkan karcisnya untuk dilubangi dengan perforator oleh petugas pemeriksa karcis rutin.
Jadi saya tidak bisa membela ibu itu.
Jadi saya tidak bisa mengatakan pada Polsuska bahwa biasanya ibu itu beli karcis.
Karena saya belum pernah melihat ibu itu mengeluarkan karcis.
Maafkan saya ya bu….
Yang menarik pagi tadi:
Ibu itu tampak tenang ketika mencari-cari dalam kantong blazer dan di dalam tas. Hanya sedikit (amat sedikit malahan) terlihat bingung.
Kalau saya yang mengalaminya (saya pernah ketinggalan kartu abonemen), pasti sudah panik. Pasti saya sudah berlinang air mata karena malu. Pasti saya akan cepat-cepat memberikan 3 lembar sepuluh ribuan untuk menghindari pandangan mata orang segerbong tertuju pada saya. Pasti saya akan cepat-cepat menuang isi tas saya ke tempat duduk agar mudah mencarinya.
Ibu itu hebat. Saya kagum pada ketenangannya. Terlepas dari entah dia beli karcis atau tidak. Paling tidak, jika ibu itu membeli karcis, maka dia 50% benar dan 50% salah. 50% benar untuk beli karcis, 50% salah untuk lalai menyimpannya baik-baik.
