Sombong Pangkal Sukses
Posted on: Friday, Mar 14, 2008
Beberapa dari kita mungkin pernah (atau sering?) mengungkapkan sesuatu yang kebetulan kita punyai, kepada orang lain. Orang yang mendengarnya, mungkin akan berkomentar, “Ah sombong lu, gitu aja dipamerin”.
Mungkin saja si pembicara ini tidak bermaksud pamer. Barangkali hanya ungkapan rasa percaya diri. Tetapi bila diucapkan di depan orang yang kebetulan tidak memiliki benda yang diceritakan, bisa jadi si lawan bicara akan merasa rendah diri, bahkan bisa juga iri atau dengki. Sehingga si lawan bicara akan merasa bahwa si pembicara ini sedang pamer, bisa jadi si pembicara dicap sebagai orang sombong.
Bagaimana caranya mengungkapkan kesuksesan atau sekedar “saya memiliki benda ini lho” tanpa menimbulkan kesan sombong? Sejujurnya saya tidak tahu cara yang paling tepat. Sebab kalau sudah berhubungan dengan perasaan, sehalus apapun ucapan kita, terkadang bisa dirasakan kasar oleh orang yang kebetulan merasa tersinggung/tersindir oleh ucapan tsb.
Beberapa tips berikut ini semoga manjur untuk menghindari stempel sombong / pamer:
- Jangan terlalu sering mengatakan “aku punya ini lho…” atau “aku bisa begini lho..” jika tidak ditanyai atau tidak dalam konteks yang tepat. Konteks yang tepat itu misalnya, saat anda diwawancarai untuk suatu lowongan pekerjaan, jika anda menyembunyikan kemampuan kerja anda, maka semakin kecil kemungkinan untuk diterima bekerja. Dalam wawancara kerja, menunjukkan kemampuan yang dimiliki tidak akan dianggap sebagai sombong/pamer, asalkan didukung dengan data/fakta yang sah.
- Ingatlah ungkapan “di atas langit masih ada langit”, dan bahwa manusia hanyalah makhluk Tuhan, manusia tidak ada yang sempurna.
- Melihat dan mempertimbangkan lawan bicara, kira-kira jika anda memamerkan sesuatu, akan menyinggung perasaan mereka atau tidak. Coba dengan memamerkan hal kecil dulu, jika mereka terlihat kurang suka, hentikan pamer saat itu juga.

Dalam agama Islam, pamer (riya’) memang dilarang. Di dalam norma pergaulan pun rasanya orang yang sombong dan suka pamer biasanya agak dihindari oleh teman-temannya.
Tapi yah, dari beberapa orang yang kebetulan saya ketahui suka pamer, mereka malah banyak yang sukses beneran lho, sesuai dengan apa yang dipamerkan. Mereka menceritakan kehebatan mereka saat akan memulai sesuatu, tapi mereka benar-benar berhasil mencapai sesuatu itu dengan hasil yang bagus. Mungkin aura percaya diri dan “sudah telanjur pamer” yang membuat mereka berusaha keras untuk mencapai keinginannya. Entahlah, saya tidak yakin juga tentang hal ini.
Bagi anda yang merasa saya pernah sombong/pamer pada anda, maafkan saya ya…saya tidak bermaksud begitu, hanya saja terkadang saya harus mengatakan realita apa adanya. Realita ini yang mungkin dianggap sebagai sombong/pamer oleh orang lain.
Kalau narsis-narsisan dalam blog, termasuk sombong / pamer apa tidak ya?
Semoga saja tidak terkategorikan sombong/pamer ya…
Mardies
March 14th, 2008 at 8:44 pm
Permalink this comment
1
Wah ini juga yang bikin saya bingung. Kalau terlalu merendah, kuatirnya nanti nggak dipercaya/dilecehkan. Tapi kalau bilang “aku bisa begini..” malah dibilang umuk.
JaF
March 15th, 2008 at 11:59 pm
Permalink this comment
2
Wah.. gue tadi di ZOE nyombong nggak ya? hehehe..
Thanks ngobrol2nya.. asik juga euy..
iin
March 16th, 2008 at 11:06 am
Permalink this comment
3
penasaran judulnya, provokatif..benarkah?
fathirhamdi
March 17th, 2008 at 8:55 am
Permalink this comment
4
wah… masalah perasaan.. kadang emang sudah di ukur..
sad bad true
Hedwig™
March 17th, 2008 at 3:54 pm
Permalink this comment
5
Saat di Depex, duduk terus gak mau gantian sama yang berdiri…. sombong namanya… (karena punya KTB)
rumahkayubekas
March 18th, 2008 at 5:39 am
Permalink this comment
6
Duh iya yah..Jangan2 sayapun seperti ini.
Bersombong ria entah untuk apa lagi,
Ya ah, musti juga nih menahan diri.
Karena dasarnya sih sombong tuh musti dihindari,
aNdRa™
March 18th, 2008 at 8:10 am
Permalink this comment
7
@Mardies: setuju… membingungkan ya..
@JaF: hahaha..engga kok pak.. makasih ngobrol2nya yang seru banget. Termasuk ngrasani Hedwig *ngelirik Hedwig*

@iin: bertanyalah pada minyak tanah yang sebentar lagi naik tahta
@fathirhamdi: betul mas, lha tempatnya di dalam jiwa, ngga keliatan, tapi efeknya bisa kemana2.
@Hedwig: Jadi itu toh ungkapan isi hatimu..
Bilang dong kalo pengen gantian duduk, pasti aku ndak mau kasih..

@rumahkayubekas: Wah jadi malu ketamuan seleb blog yg satu ini… *lagi ngga konsen bikin persamaan bunyi*… hihihi.. Makasih kunjungannya pak..
Romi Satria Wahono
March 19th, 2008 at 5:58 pm
Permalink this comment
8
Di pendidikan militer ada teknik positive theraphy. Setiap taruna disanjung-sanjung sebagai lelaki pilihan, hebat dan akan jadi jendral. Kabarnya yang akhirnya sukses di karier dan jadi jenderal beneran itu yang di depan cermin suka berkaca dan bilang bahwa “saya ini jenderal besar” … hehehehe
Okta Sihotang
March 22nd, 2008 at 12:26 pm
Permalink this comment
9
klo okta mah, biasa2 aja, toh juga lambat laun orang2 pada tw siapa sebenarnya okta itu…
*narsis amat uey*
Donny Reza
March 23rd, 2008 at 5:43 pm
Permalink this comment
10
Ahiksss…pengen euy kopdar sama si om JaF. Tapi ngobrolin apa aja sih kalian?
Btw, pamer belum tentu riya’ juga sih mbak…ada saatnya pamer juga diperlukan. Tapi dalam konteks pergaulan, memang yang namanya pamer cenderung dinilai negatif.
aNdRa™
March 26th, 2008 at 2:45 pm
Permalink this comment
11
@Romi:
patut dicoba *jadi inget cermin bulat model jaman Kumpeni* kyknya cermin itu pas buat narsis…guede dan bulat cerminnya.
@Okta: (gaya iklan rokok) siapa sich loe?
just kidding…
@DonnyReza: ngobrolin..apaya.. rahassia..
banyak sih udah lupa2 jg..
Iya tergantung cara penyampaiannya kali ya, eh tapi kata mas fathirhamdi kan susah diukur… gimana ya… gatau deh